新闻是有分量的

Secercah harapan di balik kepingan拼图盲文

2016年8月16日下午6:33发布
2016年8月16日下午6:35更新

Adi Rafa Prayoga belajar membaca dengan huruf braille di SLB Negeri Semarang,Jawa Tengah pada Selasa siang 16 Agustus。 Foto oleh Fariz Fardianto

Adi Rafa Prayoga belajar membaca dengan huruf braille di SLB Negeri Semarang,Jawa Tengah pada Selasa siang 16 Agustus。 Foto oleh Fariz Fardianto

SEMARANG,印度尼西亚 - Adi Rafa Prayoga tertawa lepas saat dijemput orangtuanya di SLB Negeri Semarang,Jawa Tengah,Selasa siang,16 Agustus。 Seperti biasa,bocah 10 tahun ini langsung menghampiri adiknya yang sudah menantinya di halaman sekolah。

Rafa panggilannya,lalu bergelanyut manja di pelukan ibunya。 Ia meraih sesuatu dari kantongnya kemudian jemari tangannya menunjukan huruf braille yang terdapat pada mainan puzzle itu kepada ibunya。

“Saya senang主要难题ini karena bisa sekalian belajar membaca,”ujar Rafa kepada Rappler。 Sang ibu pun mengangguk bangga。

Ia yang masih duduk di kelas IV sangat terbantu dengan mainan puzzle braille tersebut。 Tanpa kesulitan,huruf demi huruf dieja dengan lantang dan sesekali tersenyum lega。 “Udah lama mainan皮划艇基尼,”akunya。

Ia awalnya kesulitan merangkai huruf demi huruf yang dapat dirangkai menjadi sebuah kalimat di biduk puzzle。

Namun,menurutnya hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi anak tuna netra seperti dirinya。 Itu,kata dia,menjadi mainan mengasyikan sekaligus belajar membaca。 “Mainannya bagus dan saya sekarang sudah bisa baca A sampai Z,”katanya。

Meningkatkan kreativitas anak tuna netra

Rafa merupakan anak tuna netra yang beruntung mendapat metode belajar membaca memakai puzzle braille。 Menurut si pembuat难题,Rafa tergolong anak pintar dan cepat tanggap setiap diberi materi membaca memakai难题。

“Puzzle ini bisa membantu Rafa membaca huruf-huruf braille lebih cepat.Sehingga tumbuh kembangnya menjadi semakin baik,”sahut Alania Fitri,si pembuat puzzle braille dari Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro(Undip)sambil menunjukan puzzlenya。

Ia membuat puzzle braille bersama empat temannya,lantaran terenyuh melihat tumbuh kembang anak tuna netra di SLB Negeri Semarang yang lambat。

“Ketika gurunya ngasih tahu kalau proses belajar membaca di sini agak lama,maka saya berinisiatif membuatkan sebuah puzzle yang dilengkapi braille.Dan Rafa kami pilih karena dia anak yang punya daya tangkap cukup bagus di antara teman-temannya,”terangnya lagi。

Tak hanya itu saja,katanya。 Ia juga tertarik memberi metode pembelajaran yang inovatif bagi anak berkebutuhan khusus。 “Makanya,joitu proporsal karya ilmiah kita disetujui oleh Kemenristekdikti,langsung kita nbutbut buat puzzlenya,”sambungnya。

Sedangkan seorang temannya,Meiska Yusrona Kamila,tampak tersenyum lebar tatkala puzzle buatannya dipakai membaca oleh Rafa。

“Karena buatnya susah,Mas.Saya harus pontang-panting nyari papan kayu yang pas buat dipotong jadi puzzle.Belum lagi harus mencari kertas mika braille buat dipasang diatasnya,”imbuhnya。

拼图盲文buatannya merupakan secercah harapan bagi anak-anak金枪鱼netra。 Ia pun berharap puzzle braille mampu menjadi penyemangat Rafa kala belajar membaca。 Sebab,Rafa baginya merupakan asa dibalik kondisi serba terbatas di lingkungan SLB。

“Dari Februari kita bikin baru jadi Juni dan Allhamdullilah sekarang bisa dipakai membaca,”terangnya。

Bagi anak tuna netra cukup mudah menghafal huruf memakai puzzle braille。 Di tiap kepingan terdapat huruf dan dapat dirangkai menjadi sebuah suku kata。 Ia bilang itu adalah inovasi agar mereka bisa bermain sekaligus belajar。

Untuk mempraktekannya,ia kerap bertukar pendapat dengan guru di kelas tuna netra。 Ke depan,ia ingin puzzlenya dipatenkan agar dapat disebarluaskan ke masyarakat umum。

“拼图braille punya manfaat melatih logika anak tuna netra juga belajar membaca,”tuturnya。

Suhadi guru kelas tuna netra di SLB Negeri Semarang sangat bersyukur dengan munculnya alat bantu baru bagi muridnya。 Ia menganggap puzzle braille yang baru pertama kali ada di sekolahnya pasti bisa meningkatkan ketelian dan kesabaran anak。

“Malahan anak tuna grahita juga bisa pakai alat ini,”katanya。

Meski demikian,ia menyarankan agar karya mahasiswa Undip tersebut disempurnakan menjadi lebih baik lagi。 Pasalnya,nantinya akan ada 27 murid tuna netra dari yang tertarik menggunakan alat bantu tersebut。 - Rappler.com