新闻是有分量的

KPK dan Polri sepakat kerjasama investigasi kasus korupsi

2016年8月19日晚上11:53发布
2016年8月19日下午11:53更新

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian(kedua kiri)berjabat tangan dengan Ketua KPK Agus Rahardjo didampingi Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan(tengah)dan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar(kanan)seusai melakukan pertemuan di Gedung KPK,Jakarta,pada Jumat,19 Agustus。 Foto oleh Antara / Hafidz Mubarak A)

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian(kedua kiri)berjabat tangan dengan Ketua KPK Agus Rahardjo didampingi Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan(tengah)dan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Boy Rafli Amar(kanan)seusai melakukan pertemuan di Gedung KPK,Jakarta,pada Jumat,19 Agustus。 Foto oleh Antara / Hafidz Mubarak A)

雅加达,印度尼西亚 - Untuk pertama kali sejak dilantik pada 13 Juli lalu,Kepala Kepolisian(Kapolri)Tito Karnavian menyambangi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi(KPK)pada Jumat,19 Agustus。

Jenderal bintang tiga itu datang bersama sejumlah pejabat teras Polri,termasuk Kepala Badan Reserse dan Kriminal Komisaris Jenderal Ari Dono,Kepala Divisi Humas Ins。 Jenderal Boy Rafli Amar,Wakil Kabareskrim Ins。 Jenderal Pol Arief Sulistyanto,dan mantan Pelaksana Tugas Wakil Ketua KPK sekaligus pengajar Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian Indriyanto Seno Adji。

Rombongan Tito diterima oleh Ketua KPK Agus Rahardjo dan dua deputi:Basaria Panjaitan dan Saut Situmorang。

Dalam pertemuan tersebut, mereka sepakat untuk tidak hanya menginvestigasi kebocoran pengeluaran tetapi juga kebocoran penerimaan negara seperti pajak,bea cukai,dan Badan Usaha Milik Negara。

“Kami sepakat mendukung pemerintah meningkatkan pendapatan negara,terutama(dengan mencegah)kebocoran penerimaan negara misalnya pajak,bea cukai,BUMN dan lain lain,”kata Tito kepada wartawan usai pertemuan。

Kelebihan dan kekurangan masing-masing

Menurut Tito,KPK dan Kepolisian perlu bekerja sama karena memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing。

“Kita perlu kekuatan KPK karena banyak kelebihannya,”kata Tito。

KPK,menurut Tito,memiliki citra yang sangat positif dan kewenangan yang kuat。

Survei Indo晴雨表pada 2015 menunjukkan 82 persen respondennya percaya KPK,sementara tingkat kepercayaan respoden terhadap kepolisian hanya 56,6 persen。

KPK,menurut铁托,juga unggul dalam hal anggaran dan kultur内部。

“Posisi politik KPK juga kuat .Di sisi lain,Polri mempunyai kelemahan dari segi anggaran.Budaya organisasinya juga masih perlu diperbaiki,”kata Tito,sambil menambahkan:“Kelebihannya,Polri mempunyai jaringan luas sekali dan SDM banyak sampai 430 ribu orang。”

Tito menyatakan kepolisian siap mendukung KPK jika memang memerlukan bantuan Polri。

Kerja sama menyelidiki tindak pidana korupsi

Sementara itu,Ketua KPK Agus Rahardjo mengatakan Polri dan KPK akan menerbitkan surat perintah penyidikan(sprindik)elektronik seputar penanganan kasus dugaan tindak pidana korupsi(Tipikor)。

“Nanti dimulainya penyidikan itu seluruh Polres,Kajari diawasi oleh Polri,Jaksa Agung dan KPK,tapi ini khusus untuk Tipikor ya,kalau untuk pidana umum KPK tidak perlu,”urai Ketua KPK Agus Rahardjo。

Dalam pertemuan dengan KPK,Kapolri juga meminta KPK memberi pengarahan terkait pencegahan korupsi di kantor-kantor polisi di seluruh Indonesia serta komunitas yang terkait dengan kepolisian,seperti isteri polisi,lulusan Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian,hingga lulusan Akademi Kepolisian。

Kapolri Tito juga berharap penyidik Polri yang bertugas di KPK - 63 orang - bisa mendorong perbaikan budaya organisasi kepolisian。

“Kalau nanti mereka balik ke polisi menjadi 改变代理人 .Kita tempatkan pada posisi-posisi penting yang strategis dan rawan koruspi supaya mereka melakukan perubahan,”ujar Tito。

“Nanti kita kirim lagi 100 orang ke sini untuk membantu KPK menangani korupsi,terpengaruh budaya organisasi yang baik dan menjadi agent of change 。”

'Sejarah'vobungan KPK dan Polri

KPK dan Polri kerap dipandang sebagai lembaga yang saling bertentangan。

KPK,yang dipercaya publik sebagai pemberantas korupsi,beberapa kali mengalami konflik dengan kepolisian,yang sempat disebut lembaga terkorup di Indonesia pada 2013 oleh pria yang kini merupakan mantan salah satu pimpinan KPK,Adnan Pandu Praja。

(BACA: )

Januari 2015,Adnan diadukan ke Bareskrim Polri atas tuduhan memalsukan surat notaris serta menghilangkan saham perusahaan yang beroperasi di Kalimantan Timur,PT Desy Timber。

(BACA: )

Tiga pemimpin KPK lainnya juga diadukan kepada polisi pada waktu berdekatan dengan kasus Adnan。

(BACA: )

Selain kasus kriminalisasi KPK - yang disebut juga“cicak vs buaya II” - KPK dan Polri juga sempat berseteru dalam drama“cicak vs buaya。”

KPK,sebagai cicak,melawan Polri,sebagai buaya,berawal pada kasus mantan Kabareskrim Polri yaitu Susno Duadji。 Pria yang teleponnya disadap KPK untuk keperluan investigasi itu pernah berujar,“ Jika dibandingkan,ibaratnya,di sini buaya di situ cicak。 Cicak kok melawan buaya。 Apakah buaya marah? Enggak,cuma menyesal。 Cicaknya masih bodoh saja。 Kita itu yang memintarkan,tapi kok sekian tahun nggak pinter-pinter。 Dikasih kekuasaan kok malah mencari sesuatu yang nggak akan dapat apa-apa。

Susno akhirnya tebrukti bersalah dalam kasus korupsi PT Salma Arowana Lestari serta dana pengamanan Pilkada Jawa Barat。 Namun,dua penyidik KPK,Chandra Hamzah dan Bibit Riyanto,juga sempat dituduh melakukan pemerasan dan penyuapan pula。

(BACA: )

Di sisi lain,kerja sama KPK dan Polri bukan untuk yang pertama kalinya terjadi。 Di awal tahun ini,mereka bertemu guna membicarakan pembentukan“unit reaksi cepat”yang bertugas memetakan modus korupsi yang terjadi di pemerintahan daerah。

(BACA: )

- Rappler.com