新闻是有分量的

Ini isi curhatan Freddy Budiman sebelum dieksekusi mati

2016年8月26日下午3:35发布
2016年8月26日下午3:35更新

KASUS SUAP。 Terpidana mati Freddy Budiman sebelum dieksekusi mengaku kepada Ketua KontraS,Haris Azhar pernah menyuap personil BNN Rp 450 miliar dan pejabat polri Rp 90 miliar。 Pengakuan itu terjadi pada tahun 2014年lalu。 Foto oleh Idhad Zakaria / ANTARA

KASUS SUAP。 Terpidana mati Freddy Budiman sebelum dieksekusi mengaku kepada Ketua KontraS,Haris Azhar pernah menyuap personil BNN Rp 450 miliar dan pejabat polri Rp 90 miliar。 Pengakuan itu terjadi pada tahun 2014年lalu。 Foto oleh Idhad Zakaria / ANTARA

印度尼西亚雅加达 - Sehari sebelum dieksekusi mati pada Jumat,2016年7月29日,gembong narkoba Freddy Budiman membuat pengakuan bahwa dirinya hanya seorang pelaksana dalam sindikat narkoba di tanah air。

Pengkuan itu ada dalam rekaman video yang diterima Kepala Kepolisian Indonesia(Kapolri)Jenderal Tito Karnavian dari Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly pada Kamis,25 Agustus。

Walau menyebut dirinya pelaksana,Freddy tidak menyebutkan nama orang-orang yang memberinya perintah。

“Enggak ada menyebutkan nama-nama,”kata Tito kepada wartawan di Markas Besar Polri pada Jumat,26 Agustus。

Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan(KontraS),Haris Azhar,mengatakan pada akhir Juli bahwa Freddy pernah mengaku menyuap oknum BNN dan Polri agar bisnis narkobanya langgeng。

“Dalam hitungan saya,selama beberapa tahun kerja menyelundupkan narkoba,saya sudah memberi uang Rp 450 miliar ke BNN dan Rp 90 miliar kepada pejabat tertentu di Mabes Polri,”Haris menirukan kalimat Freddy dalam mailingan di akun Facebook dengan judul'Cerita Busuk dari Seorang Bandit ' pada tahun 2014 lalu。

Sebuah tim gabungan yang melibatkan kepolisian dan aktivis sipil sedang menginvestigasi pengakuan Freddy tersebut。

Menurut Tito,Freddy juga mengatakan bahwa beberapa tuduhan yang dialamatkan kepadanya sudah berlebihan。 “Misalnya,ada orang lain yang juga terlibat,pelaku lain yang terlibat kok yang kena saya saja.Pelaku lain tidak,”mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme(BNPT)ini meniru keluhan Freddy。

Tidak bisa menjadi bukti

Kapolri Tito mengaku sulit menjadikan rekaman testimoni Freddy sebagai acuan penyelidikan。 Rekaman yang berdurasi sekitar 11 itu,kata Tito,bersifat umum。

“Tidak ada menyebutkan nama-nama.Dia menyebutkan secara umum.Menyebutkan bahwa ada anggota yang tahu tentang kegiatan dia.Tahu itu kan sumir sekali,tahu apa maksudnya?Kami enggak ngerti,”kata Tito。

Dalam rekaman itu,Freddy juga menyebutkan adanya keterlibatan oknum penegak hukum dalam peredaran narkoba。 Namun,Freddy tidak menunjukkan bukti untuk mendukung pernyataan terebut。

“Menurut saya keterangannya sangat umum sekali tidak menyebutkan tempat,apalagi menyebutkan uang.Mungkin kalau dia mengatakan,kami yang menjadi domain daripada Polri menyelidiki apa betul katanya yang menurut keterangan Haris Azhar soal Rp 90 miliar kepada pejabat di Mabes Polri,”kata Tito。

Tito mengaku berharap banyak pada rekaman itu,dalam arti Freddy menyebut oknum pejabat Mabes Polri yang terlibat dalam peredaran narkoba sehingga pihaknya bisa langsung menggelar pemeriksaan dan polemik keterlibatan oknum pejabat Mabes Polri bisa diselesaikan。

“Haris Azhar tidak menyebutkan nama,tapi kalau di sini(Freddy)dia juga tidak menyebutkan nama.Seandainya dia mengatakan oknum yang mengetahui kegiatan dia,otomatis ini tim independen mengerucut pada yang disebutkan itu,”kata Tito。 - Rappler.com