新闻是有分量的

Bolehkah atlet basket berhijab saat tanding?

2016年8月26日下午4:42发布
2016年8月26日下午4:42更新

Apakah atlet boleh pakai jilbab? Foto dari Change.org

Apakah atlet boleh pakai jilbab? Foto dari Change.org


雅加达,印度尼西亚 - Atlet篮子专业印度尼西亚,Raisa Aribatul Hamidah(26 tahun),membuat petisi agar pemain basket boleh memakai hijab saat bertanding。

Sejak kecil Raisa berjilbab,bahkan jersey basketnya dibuat khusus agar bisa menutupi aurat dan berhijab。

“Tidaklah mudah untuk mempertahankan hijab sampai saat ini,meskipun di Indonesia adalah mayoritas muslim。 Adalah saya [mungkin],perempuan pertama yang memakai jilbab saat bermain basket,“tulis Raisa dalam 。

Raisa berhijab pula saat mengikuti kejuaraan basket Jawa Timur pada 2005 di Surabaya,dan menurut penuturannya,sejak itu timnya selalu mendapat技术犯规karena“kostumku yang tidak wajar,tidak seragam dan dinilai tidak sesuai dengan peraturan。”

Pada 2008,Raisa sempat dipanggil untuk masuk tim nasional Indonesia Muda,tapi namanya dicoret dari daftar pemain karena ia ingin tetap berjilbab saat bertanding。 Hal yang sama terulang tujuh tahun kemudian。

“Saya harus mengalami rintangan yang luar biasa untuk mengejar impian saya bermain basket di tingkat Internasional。 Saya membuat permohonan ini kepada Federasi Basket Internasional(FIBA)agar menghapus larangan tutup kepala [hijab] selama pertandingan,“ujarnya。

Raisa,yang menekuni olahraga basket sejak berumur 14 tahun,telah mengukir beberapa prestasi seperti tampil di Liga Profesional(WNBL dan WIBL),ajang olahraga tertinggi di Indonesia(PON),hingga memperoleh beasiswa S2 di Universitas Airlangga,Surabaya。

Petisi untuk FIBA

Atlet basket Indonesia ini mengutip peraturan tiga,pasal 4 tentang tim,poin 4.4 tentang perlengkapan lainnya:

“4.4.2。 Pemain tidak boleh memakai perlengkapan(benda-benda)yang dapat menyebabkan pemain lain cedera。 Antara lain:tutup kepala,aksesoris rambut dan perhiasan“

Peraturan tentang“tutup kepala”itulah yang membuat Raisa dan atlet lainnya dilarang berhijab saat bertanding basket。

“FIBA mengatakan bahwa aturan ini untuk alasan keamanan pemain,tapi di mana bukti klaim ini?”ucap Raisa。

Ia membandingkan FIBA​​ dengan Federasi Sepak Bola Dunia(FIFA),yang pada 2012 memberi masa uji coba dan mengkaji ulang aturan itu。

“Dari masa uji coba tersebut,tidak didapatkan bukti yang kuat bahwa penutup kepala dapat membuat cedera pemain,sehingga FIFA benar-benar menghapus larangan tutup kepala selama pertandingan。 Mengapa FIBA​​ tidak mengikuti jejak FIFA di sini?“

Sejak 2014年9月,FIBA memberi masa percobaan 2 tahun untuk mempertimbangkan pencabutan aturan itu。

Raisa,yang bisa mengikuti pertandingan basket internasional September ini jika aturan tentang tutup kepala itu direvisi,mempertanyakan,“Jika saya tidak diijinkan memakai jilbab,mengapa beberapa pemain diperbolehkan untuk menampilkan tato agama mereka tanpa perbedaan dan tanpa masalah?”

'Diperlakukan tidak adil'

“Ada banyak pemain berbakat di seluruh dunia yang diperlakukan tidak adil,ditolak haknya untuk bermain di kompetisi FIBA​​。 Karena memakai hijab,头巾atau yarmulke,beberapa juga ditolak di tempat kerja,“kata Raisa。

Ia mencontohkan Bilqis Abdul Qadir,pemain basket pertama yang berhijab dalam sejarah NCAA,tapi tidak pernah bermain basket di luar negeri karena terhalang aturan“tutup kepala”itu。

Ada pula Yuli Wulandari,wasit perempuan pertama dari Indonesia untuk FIBA​​ yang berhijab。 Yuli belum tentu bisa memimpin pertandingan di SEABA 2016 karena ia memutuskan berhijab,tulis Raisa。

Di akhir petisinya,Raisa meminta dukungan dan tanda tangan publik agar,“Insya Allah FIBA​​ akan mengubah aturan sehingga semua pemain di seluruh dunia akan diberikan kesempatan yang sama untuk bermain basket profesional di luar negeri dan untuk mewakili negara mereka di kompetisi internasional!” - Rappler .COM