新闻是有分量的

Kilas balik kasus pemberangusan buku di Indonesia

发布时间2016年9月8日下午3:38
更新时间2016年9月8日下午3:39

印度尼西亚雅加达 - Organisasi Pendidikan,Keilmuan,dan Kebudayaan PBB(联合国教科文组织)menetapkan setiap 9月8日 sebagai Hari Literasi Internasional,sebagai simbol pentingnya budaya literasi dalam kehidupan。

Pada yang dibuat oleh中央康涅狄格州立大学tahun ini,印度尼西亚menempati urutan ke-60 dari 61 negara mengenai literasi。 印度尼西亚berada di bawah sesama negara亚洲Tenggara,泰国,dan hanya satu peringkat di atas博茨瓦纳。

Namun,peringkat rendah ini seolah tak menjadi masalah bagi masyarakat。 Sejumlah organisasi masyarakat bahkan hingga lembaga negara turut memberangus buku。

Mereka bahkan tidak ragu untuk memberangus dan membinasakan buku-buku,dengan dalih buku-buku tersebut mengandung“ajaran kiri”dan membahayakan。

Berikut adalah kilas balik kasus-kasus pemberangusan buku pada 2016 di sejumlah daerah di Indonesia:

Penangkapan aktivis literasi,Adlun Fiqri

LITERASI JALANAN。 Adlun Fiqri aktif dalam kegiatan Literasi Jalanan yang memberikan pendidikan alternatif pada anak di Ternate。 Foto dari tuwala.blogspot.co.id

LITERASI JALANAN。 Adlun Fiqri aktif dalam kegiatan Literasi Jalanan yang memberikan pendidikan alternatif pada anak di Ternate。 Foto dari tuwala.blogspot.co.id

Adlun Fiqri,yang merupakan aktivis literasi diciduk oleh petugas Markas Kodim 150 di kantor Aliansi Masyarakat Adat Nusantara(AMAN),Maluku Utara,pada 10 Mei silam。 Ia ditangkap karena merekam oknum polisi lalu lintas menerima suap。

Tiga hari setelahnya,ia ditetapkan Polda Maluku Utara sebagai tersangka dengan dugaan menyebarkan ajaran Leninisme,Marxisme,dan komunisme。

Supriyadi Sawai yang merupakan rekan dari Adlun juga ditangkap dengan kasus yang sama。

(BACA: )

Bersama Adlun,polisi menyita buku dan kaus milik Adlun yang berbau ajaran kiri,seperti buku filsafat Marxisme berjudul Nalar yang MemberontakKekerasan Budaya Pasca 1965 ,dan Orang yang di Persimpangan Kiri Jalan karya Soe Hok Gie。

Adlun dikenakan pembaruan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana buku 2 Bab 1 pasal 107 huruf a。

Ia dianggap secara terang-terangan menyebarkan pamflet dan kaus menjurus pada paham Marxisme,komunisme,dan Leninisme。

Aliansi aktivis literasi kemudian meminta pemerintah untuk membebaskan Adlun。

Anggota Dewan Kesenian雅加达Komite Sastra,Yusi Avianto Pareamon,dalam keterangan persnya menyebutkan bahwa Adlun harus dibebaskan karena pasalnya mengada-ada。

Penyitaan buku di pameran di Tegal

GELEDAH。 Komandan Kodim 0712 / Tegal Letkol Inf Hari Santoso menunjukkan lima judul buku Partai Komunis Indonesia(PKI)yang disita dari sebuah mal,pada 11 Mei 2016. Foto oleh Oky Lukmansyah / Antara

GELEDAH。 Komandan Kodim 0712 / Tegal Letkol Inf Hari Santoso menunjukkan lima judul buku Partai Komunis Indonesia(PKI)yang disita dari sebuah mal,pada 11 Mei 2016. Foto oleh Oky Lukmansyah / Antara

Pada 11 Mei silam,sejumlah buku yang mengandung paham komunisme dan Partai Komunis Indonesia(PKI)disita dari sebuah stan buku di pameran yang diadakan di salah satu mal di Tegal,Jawa Tengah。

Kodim 0712 Tegal mengamankan sebanyak 90 buku dengan alasan melanggar hukum Indonesia。

Buku-buku terse但antara lain Komunisme Ala AiditSiapa Dalang G30S? Kabut G30S ,dan The Missing Link G30S

(BACA: )

Gramedia tarik buku连续调查Tempo

Buku seri Tempo'Orang Kiri'bertemakan tokoh PKI,DN Aidit。 Foto oleh Abdul Qowi Bastian / Rappler

Buku seri Tempo'Orang Kiri'bertemakan tokoh PKI,DN Aidit。 Foto oleh Abdul Qowi Bastian / Rappler

Pada 13 Mei,toko buku Gramedia menarik sejumlah buku连续调查“Orang Kiri”majalah Tempo dari penjualan,menyusul adanya sweeping dan penarikan buku beraliran kiri di beberapa daerah。

系列tersebut bertemakan mengenai PKI dan tokoh-tokoh sentral partai berlambang palu arit tersebut,seperti Aidit,Njoto,Sjam,dan Musso。 Alasannya,buku-buku tersebut dapat terhitung sebagai atribut PKI oleh TNI dan Polri。

Buku Memoar Pulau Buru karya Hersri Setiawan juga termasuk yang ditarik dari penjualan,karena berisi catatan mengenai masa penahanan penulis di Orde Baru。

(BACA:Buku )

Polisi datangi Penerbit Narasi di Yogyakarta

Polresta Yogyakarta dan Polda DIY mendatangi Penerbit Narasi dan menyita sejumlah buku beraliran kiri yang ditulis oleh Kuncoro Hadi。

Buku seperti Prahara di Garis Merah disita oleh pihak kepolisian。 Padahal,buku tersebut,menurut Kuncoro,ditulis berdasarkan sumber primer yang ia miliki,yakni para penyintas dan saksi peristiwa penghancuran PKI di Klaten dan Boyolali periode 1965 hingga 1979。

Kuncoro juga menulis buku berjudul Kronik 65 ,yang berisi tentang relasi antara PKI dan partai lain,pemerintahan Soekarno,dan rangkaian peristiwa sepanjang Oktober 1965。

Beruntung,buku tersebut telah masuk proses penyuntingan dan tidak diketahui apalagi disita aparat。

(BACA: )

Pembubaran Perpustakaan Jalanan di Bandung oleh TNI

Puluhan warga Bandung pada 27 Agustus menggelar aksi solidaritas terhadap Perpustakaan Jalanan yang dibubarkan oleh aparat TNI sepekan lalu。 Foto dari Facebook / perpustakaanjalanan

Puluhan warga Bandung pada 27 Agustus menggelar aksi solidaritas terhadap Perpustakaan Jalanan yang dibubarkan oleh aparat TNI sepekan lalu。 Foto dari Facebook / perpustakaanjalanan

Perpustakaan Jalanan di Bandung dibubarkan oleh aparat TNI pada 20 Agustus silam。 Diduga普拉,terjadi kekerasan fisik yang dilakukan oleh aparat terhadap pegiat Perpustakaan Jalanan。

Komando Daerah Militer(Kodam)III Siliwangi mengatakan alasan pembubaran tersebut adalah jam kumpul yang telah melebihi pukul 22:00 WIB。

Peristiwa tersebut terjadi pukul 23:00 WIB,di sebuah taman tanpa penerangan cukup。

Alasan ketertiban tersebut bukanlah yang utama。 Kodam III Siliwangi juga mempertanyakan konten buku yang dibaca dan disewakan Perpustakaan Jalanan。

(BACA:

Meski demikian,puluhan warga Bandung melakukan aksi solidaritas terhadap Perpustakaan Jalanan dengan melakukan aksi diam dan membaca di Taman Cikapayang,Jalan Ir。 万隆H. Juanda。

Mereka yang melakukan protes tergabung dalam Front Anti-Fasis,Aliansi Jurnalis Independen(AJI)Bandung,dan lain-lain。 -Rappler.com