新闻是有分量的

Duterte dan Jokowi:Sama tapi beda

发布时间2016年9月8日下午7:34
更新时间:2016年9月8日9:14

雅加达,印度尼西亚- Presiden Filipina Rodrigo Roa Duterte tiba di Jakarta Kamis malam ini,2016年9月8日,untuk melakukan kunjungan selama dua hari。

Kunjungan ini merupakan kunjungan kenegaraan pertama dari Duterte sejak dilantik menjadi presiden ke -16 Filipina pada Kamis,30 Juni。

Presiden Joko“Jokowi”Widodo dijadwalkan melakukan pertemuan双人dengan Presiden Duterte pada Jumat,9月9日。 Mereka tidak akan kekurangan

Apa yang membuat pertemuan itu menarik adalah Jokowi dan Duterte mempunyai perjalanan karir politik yang hampir sama。 Terkadang,sikap politik mereka terhadap beberapa isu juga sama。

Berikut adalah beberapa kesamaan karir dan sikap politik Jokowi dan Duterte。

1. Mantan Walikota

Jokowi dan Duterte memulai karir politik mereka sebagai walikota。

Jokowi,主持印度尼西亚yang ke 7,memulai karir politiknya dengan menjadi Walikota Solo di Jawa Tengah pada 2005. Pada Juli 2010,Jokowi dilantik menjadi Walikota Solo untuk kedua kalinya。 Pada 2012,Jokowi menjadi Gubernur雅加达sebelum dilantik menjadi总统布兰Oktober 2014。

Duterte berhenti menjadi Walikota Davao di Pulau Mindanao, kira-kira satu jam penerbangan sebelah selatan Manila,ibukota Filipina, untuk maju dalam pemilihan presiden pada Senin,9 Mei 2016,lalu。

Duterte menjabat sebagai Walikota Davao selama 22 tahun。 Duterte juga pernah menjadi wakil walikota dan anggota立法机关Kota Davao。

2. Orang luar politik

Jokowi dan Duterte terpilih menjadi总统berkat dukungan masyarakat akar rumput。

Jokowi menjadi主持印度尼西亚的 pertama yang bukan dari elit politik atau militer。 Sebelum menjadi Walikota Solo,Jokowi adalah seorang pengusaha meubel。 Dia menjadi anggota Partai Demokrasi印度尼西亚Perjuangan(PDIP)ketika mencalonkan diri dalam pemilihan walikota Solo 2005 lalu。

Walau menjadi anggota PDIP dan terpilih menjadi gubernur雅加达pada 2012年,sikap dan tutur katanya yang sederhana membuat dia beda dari elit politik Indonesia。

Duterte juga demikian。 Selama 22 tahun,Duterte menjadi walikota Davao,terpilih kembali dalam tujuh pemilihan kepala daerah。 Tetapi dia hanya politisi daerah,tidak pernah menjadi bagian dari elit politik di Manila,ibukota Filipina。

Pada saat pemilihan双关语,Duterte lebih banyak didukung oleh masyarakat akar rumput(grassroot)daripada elit politik。

3. Pemimpin merakyat

Jokowi dan Duterte selalu mencitrakan diri tidak hanya sebagai pemimpin rakyat tetapi juga pemimpin yang merakyat。

Pada 7 Juli,misalnya,Duterte kembali ke kampungnya di Davao dengan menggunakan pesawat komersial,Philippine Airlines,dan duduk di kelas ekonomi。

Baik sebelum dan sesudah menjabat sebagai主持,Duterte kerap muncul di tengah masyarakat dan di depan media mengenakan kemeja polo saja。

Baru-baru ini,Duterte menjemput di bandara puluhan tenaga kerja Filipina yang dipulangkan dari阿拉伯沙特karena perusahaan tempat mereka bekerja bangkrut。 Duterte menyalami dan memberi mereka uang saku dan uang transportasi。 Dan tidak lupa dia mengingatkan mereka untuk memberi sebagian uang untuk istri mereka sebagai oleh-oleh。

Jokowi sudah lebih dulu menggunakan pesawat komersial dan duduk di kelas ekonomi。 Jokowi juga sering memberikan sepeda kepada masyarakat di daerah dan tampil memakai sarong di istana negara。

4. Perang melawan narkoba

Duterte dan Jokowi mengambil sikap yang sama terhadap narkoba:Tidak ada toleransi untuk penyalahgunaan narkoba。 Hanya saja,Jokowi berbeda dari Duterte dalam hal menangani pengguna,pengedar,dan bandar narkoba。

Jokowi lebih mengutamakan pendekatan hukum dalam memerangi narkoba:menangkap dan mengadili pengedar dan bandar narkoba。 Dan tergantung derajat kesalahan mereka,pengedar dan bandar narkoba bisa dihukum mati dan dieksekusi setelah mereka mengambil semua jalan hukum yang tersedia。 Sejak Jokowi dilantik pada 20 Oktober 2014,18 orang terpidana mati dalam kasus narkoba telah dieksekusi mati。

Duterte mengaku mengutamakan pendekatan hukum juga,tetapi dalam kenyataannya,dia mengizinkan polisi menggunakan senjata bila terduga pengedar atau bandar melakukan perlawanan saat ditangkap。 Tidak heran,sejak dilantik 30 Juni lalu,lebih dari 2.000 terduga pengedar dan bandar narkoba telah ditembak mati dalam operasi anti narkoba。

5. Komunikasi(politik)

Jokowi dan Duterte juga mempunyai perbedaan dalam komunikasi(politik)。

Tutur kata Jokowi sederhana,tenang,dan diplomatis。 Bila ada perbedaan sikap politik,negosiasi dilakukan secara tertutup。

Sementara itu,gaya komunikasi Duterte lebih frontal dan eksplosif。 Awal minggu ini,misalnya,Duterte berkata kasar terhadap Presiden Amerika Serikat Barack Obama。 - Rappler.com